PENJAGA GERBANG MASUK KOTA
Udara malam belum begitu dingin, langit Nampak cerah, setelah sore tadi hujan mengguyur, rembulan Nampak sempurnabentuknya, meski di selimuti kabut tipis, namun tidak memudarkan pesonanya.
Keluardari sanggar aku lihat seorang laki-lakimembawa sepucuk senpan angin, entah apa yang sedang di carinya, atau hanya menunggu temanyayang lain. Seorang tukang becak mengayuh becaknya yang tanpa penumpang. Sebuah mobil yang sejak tadi sore terparkir Nampak basah oleh embun.
Sampai di tikungan pertama, ku belokan kendaraanku kea rah timur Nampak lalu lalang pengendarasepeda, motor mungkin karena masih soresampai di tikunganke selatan menujujalan utama, sampai di pertigaan pos polisi sumbang ku belokan kendaraanku kea rah timurnampak lampu lalu lintas menunjukan angka digital warna merah, tinggal beberapa detik lagi akan berganti hijau. Semakin dekat dengat lampu merah, semakin ramai orang lewat, ataumereka yang baru saja daridari bis antar kota, karena lampumerah itu dekat dengan terminal, di samping itu memang adkampus dan rumah sakit rumah sakit.
Setelah melewati lampu merah Nampak deretan pohon palem dikiri kanan jalan yang daunya menutupi cahaya lampu-lampu sehingga menimbulkan cahay yang temaram. Nampak di depan papan selamat datang, di bawahnya Nampak sepasang gapura yang dengan gagahnyamengawal .seorang dengan rambut panjang, keriting, yang mungkin wig ,memakai rok mini yang ketat, stoking hitam, sepatu high heel berjalan menuju arah gapura di bawah papan selamat datang.yah, mereka para waria yang dengan setia “menunggu” dan menjaga gerbang masuk kota.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar