WELCOME to EDY'S ZONE


Powered By Blogger
papan_kapur

blog ini media untuk belajar dan menuangkan semua ide- ide yang ada

Rabu, 16 Maret 2011

sobat nu version


SOBAT MAAFKAN AKU
Sobat aku sungguh tak mengerti
Semua ini bias terjadi
Setelah perkenalan itu
Aku terhanyut
Aku sebenarnya tak kuasa untuk
Mendambakanya
Merindukanya…

Sepenggal  lagu Padi ini seolah menguraikan ingatanku tentang seorang gadis yang sempat mewarnai hidupku. Meskipun tidak pernah ada catatn tentang dia.
Ratna, yah, itu nama panggilanya..usianya waktu itu sekitar 18 tahun.. Rambutnya pendek, sekilas hampir kaya cowok kalau di lihat dari belakang. Kulitnya kuning. Satu ciri khasnya dia dekik kalau tersenyum.  Dia anak pertama dari dua bersaudara. Asli Benjeng Gersik.
Sebenarnya dia gadis yang biasa saja hingga suatu saat masuk ke sekertariat untuk mendaftar menjadi calon anggota MAPALA. Dia datang dengan seorang temanya Indah namanya. Ketika mereka datang Nampak dua sosok yang sangat berbeda. Yang satu tampak feminin dalam balutan jilbab dan rok panjangnya sedang yang satu tomboy dengan polo shirt dan celana jeans.
Awalnya aku tidak memperdulikan cerita teman-teman kalau Ratna ini anak yang menjadi rebutan, apa sih kelebihan anak ini? Pikirku. Tapi perasaanku ini berubah tatkala indah teman sahabannya bercerita kalau dia sebenarnya tidak setegar penampilanya.
                Dia seperti itu hanya sebagai pelampiasan atas semua yang dia lalmi selama ini. Salah satunya hubungan dengan pacarnya yang tidak di restui. Akh, masalah renaja pikirku.
Tetapi semua itu berubah hingga suatu sore aku lewat depan kosnya untuk memebeli makan. Dia sedang duduk di depan kosnya. Mukanya kusut, rambutnya acak-acakan. Serta merta  Timbul keinginanku untuk tahu apa yang terjadi.
Ku urungkan niat untuk membeli makan. lalu menhampiri dia,  kami bercakap sekadarnya. Pertanyaan yang tadi tersimpan, seolah tak bisa keluar dari bibir. Karena mulut ini seolah terkunci melihat kondisinya. Di  lengan kananya nampak beberapa bekas goresan benda tajam. Ada juga yang baru mengering. Di tangan kirinya sebatang rokok yang hampir habis terselip di antara jemarinya.
Ada apa sebenarnya dengan mahluk satu ini.apa yang sedang terjadi ? Kenapa tiba- tiba ada perasaan simpati yang menyelinap dihati. Rasa ingin tahuku makin makin besar. Ku coba untuk memulai percakapan denganya, meski tidak mengharapkan jawaban .
  Eh sakit ta?”
“ Gak koq, Cuma lagi males aja.”
Sinting kayaknya ni anak pikirku.
“ Eya, kok sepi pada kemana?”
“Indah kuliah.”
“Oooh” Cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.
Setelah kejadian hari ini, aku mulai memberikan perhatian lebih kepadanya. Awalnya hanya sebagai seorang kakak  kepada adik. Indah menjadi penyambung lidah kami. Dan dariny pula aku dapat infornasi lengkap tentang sosok sahabat akrabnya yang agak misterius itu. Mulai dari keluarga, kebiasaan merokok, percobaan bunuh diri bahkan kebiasaany dia meminum Obat penenang  melebihi dosis jika sedang tertekan sampai hubungan dengan kekasihnya yang tidak mendapat restu.
Akhirnya kami mulai akrab satu dengan yang lain. Dari sini aku mulai merasakn adanya ketergantungan. Perasaan yang awalnya berupa rasa kasihan dan keinginan untuk merubahnya menjadi sosok yang tegar. Mulai berubah menjadi perasaan ingin memiliki . Sempat terbersit kekhawatiran, bagaimana jika aku nanti jatuh cinta?. Oh, Tuhan jangan sampai ini terjadi. Bisa panjang urusanya nanti.Karena beberapa alasan.
Pertama karena dia sudah punya pacar ,kedua kekasihnya sudah akrab denganku dan  setiap dia datang ke sini untuk menjenguk Ratna. Dia menginapnya di kostku. Ketiga, dia sudah ku anggap  adik  untuk  alasan terakhir tidak menjadi penghalang buatku.
Tetapi dari hari ke hari, perasaan ini semakin membingungkanku. Dia pun semakin hari semakin menghiasi hidupku. Mulai dari salingmengingatkan untuk hidup sehat, saling mengirim makanan bahkan ada kalanya dia memasak untuku. Ini kuanggap sebagi bentuk perubahan yang positif. Tetapi kembali lagi kepada diriku yang mulai terjebak dalam permainan.
Dan semakin parah, bukan hany terjebak kau juga mulai mengikuti kebiasaanya. Berawal ketika kami berselisih karena sesuatu yang tidak jelas, aku menunjukan kepadanya kalau bukan hany dia yang bias berbuat seperti itu. Di depan matany ku telan 4 butir obat penenang. Sontak dia kaget, karena dia melihat diriku seperti orang mabuk. Jelas saja, overdosis.
                Rasanya bumi seperti bergoyang, kaki terasa ringan, mulut kering dan gerak tubuh tidak terkendali. Dan lama- lama ini menjadi cara pelampiasan ketika menghadapi masalah.
Dan suatu hari ketika pulang dari kampus kami bertemu di jalan, entah karena sudah di rencanakan atu kebetulan. Dia mengajaku untuk jalan- jalan.
Dan selanjutnya kami berdua naik angkutan menuju DEPlaza, tetapi dia mengajaku turun di depan stasiun GU. Begitu turun dia langsung menggandeng tanganku. Begitu erat seolah dia tak ingin kehilangan. Ada apa dengan anak ini? Habis minum apa dia? Sadarkah dia dengan apa yang di lakukanya? Pertanyan- pertanyan yang muncul di fikiranku.
Semakin lama semakin sering kami pergi berdua, mulai dari sekedar jala-jalan, belanja, ke toko buku,dan nonton. Darinya pula aku mengenal bagaimana memperlakukan pasangan ketika berada di mall, restaurant atau bioskop.  Dia  seolah guru bagiku. Banyak hal yang dia ajarkan dan itu membuatku seperti kecanduan.
                Keadaan  makin  tidak  terkendali. Dan bahkan semakin berani untuk bermain api. Banyak hal-hal yang kami lakukan meskipun itu sudah melanggar niat awalku yang ingin membantu dia untuk terlepas dari masalhnya, tetapi kami malah teribat dalm permasalahan baru.
Dulu kami hanya hang out  hanya ketika ada kesempatan, tetapi seiring berjalnya waktu kami malah merencanakan semuanya. Tidak memperdulikan waktu.
                Bahkan setelah dia di kunjungi kekasihnya, begitu pacarnya pamit, dia langsung datang ke kostku untuk mengajaku  pergi. Apa yang terjadi dengan diriku? Meski aku tahu siapa dan statusnya, tapi masih saja ku lakukan ini semua. Dan aku semakin dalam terperosok.
Meskipun nurani ini menolak, karena semua yang kami lakukan sudah melebihi batas-batas persahabatan. Aku membayangkan bagaimana perasaanku jika berada di posisi kekasihnya.
Meskipun kebersamaan kami hanya satu tahun dan tidak ku anggap sebagai sebuah  hubungan, namun kenangn itu cukup membekas.
Kursi kayu, 31 Desember 2010. 02:32 a.m
   

Senin, 20 Desember 2010

MALAM SEPULUH SURO


MALAM SEPULUH SURO
“ Ed…pentool!” seru Koko dari depan sanggar menawarkan _ Memang dari tadi Dia menunggu lik penjual pentol yang biasanya lewat. “ sholaat!” jawabku yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk wudlu. Selesai sholat ku lihat dia sudah asyik di depan laptopnya untuk menulis berita_ karena Dia memang seorang wartawan, sambil menikmati pentol. “ tuh dimakan” katanya. gak pake lama benda-benda bulat di dalam plastik yang bercampur bumbu kacang, pindah tempat kedalam mulutku. Sambil membaca berita yang ada di Koran.
Setelah habis kulihat jam di dinding menunjukan pukul 5:05 sore. Ku  putuskan untuk pamit.“ eh duluan Ko, udah sore tadi ibuku nitip bakso ma lontong buat buka puasa, jadi duluan yow” kataku. Kebetulan tadi sebelum berangkat ibuku pesan kalau pulang  beli  bakso dan lontong.hampir saja lupa tapi gara-gara pentol. Jadi ingat lagi.” Yo gitu berbakti” Sahut koko sambil ketawa.
 Ku masukan netbookku ke dalam tas. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal. Ku tinggalkan sanggar. Memasuki kota kapas kulihat jarum indikator bensinku mendekati huruf E. ini berarti bensin di tangki motorku sudah mau habis. Meski menurut perhitungan masih cukup untuk sampai di rumah. Tetapi daripada besok harus mendorong motor karena kehabisan bensin. Seperti yang terjadi tadi waktu berangkat. Segera ku belokan motorku ke Pom bensin yang ada di daerah Balen.
Langit mulai gelap karena memang sudah masuk waktu magrib. Maka kecepatan motorku ku tambah karena biasanya perjalananku memakan waktu 30 menit. Tapi aku berusaha untuk sampai rumah sebelum magrib. Apalagi aku harus menbeli bakso untuk ibu, untuk berbuka. Meski di sepanjang jalan banyak penjual bakso tetapi tujuanku adalah bakso langganan ibu milik Pak  Men .  
Setelah hampir 15 menit memacu kendaraan. Ketika sampai warung Pak men Ternyata  sudah  tutup. Plan B pikirku _ya kaya gini ini kalo kebanyakan nonton film hollywood. Langsung menuju penjual yang ada di dekat sekolahanku dulu dan ternyata juga tutup. Wah..  terpaksa  plan C neh. Meski sudah terdengar adzan magrib. Tetap saja kulanjutkan perburuan bakso. Tiba-tiba ingat perkataan ibuku. Waktu aku bercerita magrib-magrib nabrak kucing.” Makanya nek dalu segera pulang”. Kata ibu. Tetapi karena sudah terlanjur janji, kulanjut perjalanku.
Tujuanku kali ini adalah Margoagung. Sumberrejo ke timur sekitar 2 kilo lalu ada perempatan belok keselatan. Tidak sampai 500 meter ada penjual bakso. Sebenarnya bukan yang ini, tapi karena sudah magrib, maka ku hentikan  motorku di depan warung. Daripada kemalaman sampai rumah
Segera ku pesan sebungkus dan 3 buah lontong. Cukup untuk berbuka pikirku. Selesai membayar segera Keluar dari warung dan  kupandang langit yang semakin gelap. Ingin segera sampai di rumah. Sesaat  kupikir kira-kira Jalur mana yang cepat ke rumah. Kalau terus keselatan memang dekat, tapi jalanya rusak.  Kembali ke utara lewat jalan raya jauh. Akhirnya kuputuskan untuk lewat jalur utara.
Sampai jalan besar kubelokan motorku ke arah barat. Melewati jalanan yang semakin gelap meski lampu-lampu sudah menyala. Tetapi karena pepohonan yang rindang menutupi sinarnya, maka seperti memasuki sebuah lorong. Sampai di perempatan Prayungan ku belokan motorku ke selatan. Berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada kereta yang lewat, karena aku harus melewati perlintasan kereta yang tak berpenjaga.
Setelah melewati rel dan sebuah polisi tidur yang sudah mulai rusak.  Tampak di depan seseorang wanita tua dengan membawa rinjing, dengan caping, serta bungkusan plastik kresek. Berjalan pelan-pelan di keremangan senja. Ku hentikan motorku di sampingnya. “ Bade tindak pundi Mbah” tanyaku” ke  desa Mbrambang,” jawabnya.” Monggo” entah kenapa aku menawarkan bantuan kepadanya. Padahal desa Mbrambang itu dimana? aku juga tidak tahu. “ Akh urusan nanti pikirku, yang penting nenek ini sampai tujuan, kasihan jam segini harus berjalan sendirian” itu yang terlintas di benaku. Lalu Aku teringat omongan temanku, “ kita harus selaluu khusnuzdhon kepada semua” .  
Begitu nenek itu naik ke motorku, selanjutnya aku juga di landa kebingungan. Desa tadi di wilayah mana? Sedangkan aku termasuk golongan orang yang tidak hafal wilayah_penyakit lupa entah sejak kapan nempel di diriku. Jangankan  nama desa, kadang nama muridku saja sering  lupa. Sambil jalan ku coba untuk mengingat nama desa yang tadi di sebutkan Mbah. Kalau ini terus ke selatan bakal sampai ke desa mana?. Seingatku  di saerah selatan tidak ada. Akhirnya  timbul inisiatif untuk bertanya. Kulihat ada seorang ibu di sepan rumah, kuhentikan motorku lalu bertanya” bu numpang tanya, desa Mbrambang itu mana?”. “ wah, jauh mas, Sumberrejo keselatan sekitar 10 kilo” jawab ibu tadi. Alamak , padahal sekarang aku berada didesa Pejambon, berjarak sekitar 5 kilo dari Sumberrejo.
Terjadi pergolakan di bathinku. Antara bakso titipan ibu dan nenek tua ini. Jika ku antarkan nenek ini maka aku akan terlambat pulang, tapi kalau tidak bagaiman nasibnya?. Ya Tuhan harus bagaimana aku?.
Akhirnya ku putuskan untuk mengantarkan nenek ini. Setelah melalui jalan yang mirip jalur offroad. Sampai juga  di jalan raya juga. Pelan-pelan ku lajukan kendaraanku. Sampai di perempatan sumberrejo ku belokan motorku kearah selatan. Tanpa  menambah kecepatan aku berharap ada keluarga yang menjempunya. Tetapi tidak seorangpun yang memanggil dia. Bahkan tukang becak orang - orang yang berhenti di pinggir jalan tidak ada yang memperhatikan kami.
Setelah melewati masjid besar dan rel kereta . Suasana tidak seramai di jalan besar tadi. Apalagi setelah hampir 3 kilo. Jalan makin gelap, hanya sesekali berpapasan dengan pengendara dari arah berlawanan. Semakin lama semakin sepi dan gelap.
Mbah namine sinten yogane” tanyaku sekedar untuk mengurangi rasa takut.” Saniman nak, omae Mbrambang kidul” jawab si nenek.” Mangke kulo gantos nak yotro bensin setunggal juta”. Lanjutnya.“ wah apa mungkin si Mbah ini  dari program “TOLONG” RCTI neh” pikirku.”  Oalaah wong niate nolong kok mikir kaya gini” .
di depan Nampak senuah toko di kiri jalan, ku putuskan untuk bertanya lagi. “ 3 kilo lagi mas” kata seorang pemuda yang kebetulan beli di toko tempatku bertanya.” Makasi mas, akh tar lagi nyampe” dalam hatiku. Tapi bagaimana caranya mengetahui kalau sudah sampai?. Bahkan  papan nama desa  tidak kelihatan karena gelap. Tapi kutemukan ide, dengan melihat angka di spido meter motor.
Sedikit ku pacu kendaraanku karena suasana makin gelap. Apalagi di kiri -kanan jalan hanya sawah, sambil sesekali ku perhatikan angka di spido meter. Sudah 2 kilo. Setelah angka di spidoku menunjukan 3 kilo lebih kuputuskan untuk bertanya lagi. Karena nampak di depan 3 orang laki-laki di atas motor. Yang satu sedang asyik telpon.yang dua menikmati rokoknya. Setelah berhenti, kumatikan motorku lalu bertanya.” Permisi pak, Mbrambang kidul tasik tebih?”. “ oh jembatan itu mas” sambil menunjuk ke arah utara,” ada jalan kecil sampean belok ke timur” jawab seorang dari mereka. Akupun menoleh mengikutu arah yang di tunjukan bapak tadi, untuk sekedar memastikan jarak jembatanya. ” suwun pak” sahutku.
Ternyata kelewat tapi hanya beberapa meter. Sedikit lega hatiku, sebentar lagi Mbah ini bertemu keluarganya. Tetapi sebelum di naik ke motorku bungkusan yang di bawanya jatuh. Segera ku bantu dan ternya di dalamnya berisi kain-kain kumal. Tiba - tiba terlintas di pikiranku” Wah jangan-jangan nenek ini orang sakit jiwa”. Akh , segera kutepis perasaanku ini” Mana mungkin orang gila bisa menjelaskan di mana alamatnya, nama suaminya dan desa tujuan”
Pelan –pelan ku jalankan motorku karena hanya beberapa meter. Sambil kunyalakan lampu sein. Kupastikan tidak ada kendaraan dari belakang, lalu aku belok kekiri.  Akhirnya  sampai juga di tujuan. Di sebuah kampung . tapi dimana rumah keluaraga si mbah ini? Namanya siapa ?. “ Mbah namine sinten rayatane njenengan?” tanyaku memastikan. “ Saniman nak, bakul sapi, asline sumberwangi” jawabnya.
 Daripada bingung kuputuskan untuk bertanya lagi.di depan ada beberapa ibu-ibu yang sambil menggendong anaknya. ” Bu griyane Saniman pundi?” ibu muda yang kutanya nampak kebingungan.” Gak ada mas yang namanya Saniman” jawabnya. “Mungkin di sebelah sana tahu” di tunjuknya bapak- bapak yang berkumpul di depan rumah.
 Agak  sulit juga lewat karena  di depan ada sebuah mobil berhenti di tengah jalan kampung yang kecil. Tiba-tiba si Mbah ngomong” la itu anakku di sana, le emak ojo di tinggal”. Maka ku hentikan motorku di dekat truk yang berhenti di tengah jalan.” Niki Mbah?” tanyaku.” Bukan nak, masih di depan” jawabnya. Daripada bingung maka ku dekatkan motorku ke orang-orang yangditunjuk ibu tadi,  lalu bertanya“ pak nyuwun sewu ngertos griyane pak Saniman?”.” Saniman? Gak eneng mas “jawab mereka. Waduwh, gimana urusanya neh?.
Tak lama kemudian penduduk kampung berdatangan. Mencari tahu apa yang terjadi.  Ada beberapap bertanya kepadaku ada permasalahan apa? Mencari siapa ? lalu kuceritakan apa yang terjadi. Macam- macam reaksinya. Lalu seorang bapak ngomong” jangan-jangan orang gila” . Akupun mulai kebingungan. Karena ini semua di luar perkiraanku. Akhirnya mereka bertanya kepada si Mbah langsung.
Mbah, madosi sinten?” Tanya seorang ibu.
Saniman nduk, bakul sapi asli Sumberwangi” jawabnya.
Enten perlu nopo( ada perlu apa?)?”
ngedos, wayahe panen”( waktunya panen)
“ oalah Mbah , sini baru saja tanam”
Akhirnya seorang bapak menengahi. “ mas kita bawa aja ke Bu lurah biar segera beres urusane”.
Ku iyakan saran bapak tadi, dari pada urusan ini tidak ada penyelesainya. Dengan harapan Bu lurah mau menampung si Mbah yang bingung ini. Dan yang pasti aku bisa segera pulang. Denga di antar dua orang penduduk kami menuju ke Tokonya bu lurah. Sesampai disana bapak-bapak tadi melapor.tetapi..
Oh My God. Bu lurah berkata” wealaah, Mas sampean bawa balik saja, dia sudah 4 kali kesini”. Seperti terkena arus listrik ribuan volt. Ternyata benar dugaanku tadi si Mbah ini orang….waaaa….. Aku harus  menghadapi kenyataan. Si Mbah ini memang mempunyai kelainan jiwa.





Kamis, 16 Desember 2010

Parfum


PARFUM
Aroma parfum ini mengingatkan aku pada seseorang yang pernah mengisi hari-hariku 3 tahun yang lalu.
Meski mata ini tak bisalepas dari slide yang ada terpampang jelas di dinding sanggar.sudah hampir 30 menit kami mengikuti materi yang di sampaikan oleh koko , yah, itu panggilan akrabnya, nama sebenarnya adalah Abdul Qohar, dia teman sekelasku dulu.
Terdengar deru mesin motor 4 tak,cahaya lampu dari motor itu  menerobos masuk, meski di dalam ruangan cukub terang oleh cahaya lampu TL , konsentrasi kami terganggu sejenak,terdengar suara salam dari luar, itu memang sudah jadi kebiasaan siapa saja yang masuk ke d sanggar.
Nampak seorang gadis berusia sekitar 18 tahun, memakai jilbab hitam, kombinasi jaket putih bermotif bintang,dan celana jeans warna putih belel ,tas berwarna merah maroon,kulitnya putih, tingginya kurang lebih 155 cm.” maaf saya terlambat” katanya dengan suaranya yang terdengar manja .” Desi leren adus to piye, kok keri ”. Sahut koko  dengan nada bercanda. Kebiasaan seperti ini yang mebuat kami akrab satu dengan yang lainya.tak ada kesan apapun, karena aku harus menyelesaikan tulisanku.
Desi duduk di sebelah kananku,” antara aku dan Betty gadis asal Panceng Gersik. Begitu dia duduk di sebelahku, aku seperti terkena setrum listrik, yah, parfum ini,tanpa sadar aku mencari  dan aroma ini berasal dari Desi, yang ada di sebelah kiriku. Aku lihat dia sibuk dengan kertas dan pulpenya, sesekali tertegun, mungkin mencoba mengurai ide-ide yang ada di pikiranya, atau hanya sekedar melihat 2 ponsel yang ada di dalam tasnya.
Akh… iya, aku ingat siapa yang pernah memakai parfum ini. Dia dulu pernah mengisi hari- gariku dengan keceriaan. Meski perbedaan usia kami lumayan jauh. Tapi itu tidak meng halangi kami untuk berbagi. Tapi karena waktu itu aku harus bekrja diluar kota. Akibatnya waktu untuk bersama kurang. Ini berakibat kebersamaan kami harus berakhir .
Tapi aroma parfum ini  membangkitkan kenangan yang telah 3 tahun terkubur. Bayangan itu namapak jelas di pelupuk mata. Seorang gadis dengan  Kulitnya yang putih, tubuhnya yang tinggi semampai,rambutnya yang hitam berombak ,sepasang  mata yang bulat , hidung mancung serta sebuah tahi lalat kecil menghiasinya. Satu hal yang membuatku selalu teringat adalah  ketika dia tersenyum ada dekik  di pipinya.
Tapi itu semua telah berlalu. Tapi setiap kenangan ini mulai terkubur. Selalau ada hal yang membangkitkanya.

Selasa, 07 Desember 2010

Penjaga pintu gerbang masuk kota


PENJAGA GERBANG  MASUK KOTA
Udara malam belum begitu dingin, langit Nampak cerah, setelah sore tadi hujan mengguyur, rembulan Nampak sempurnabentuknya, meski di selimuti kabut tipis, namun tidak memudarkan pesonanya.
Keluardari sanggar aku lihat seorang laki-lakimembawa sepucuk  senpan angin, entah apa yang sedang di carinya, atau hanya menunggu temanyayang lain. Seorang tukang becak mengayuh becaknya yang tanpa penumpang. Sebuah mobil yang sejak tadi sore terparkir Nampak basah oleh embun.
Sampai di tikungan pertama, ku belokan kendaraanku kea rah timur Nampak lalu lalang pengendarasepeda, motor mungkin karena masih soresampai di tikunganke selatan menujujalan utama, sampai di pertigaan pos polisi sumbang ku belokan kendaraanku kea rah timurnampak lampu lalu lintas menunjukan angka  digital warna merah, tinggal beberapa detik lagi akan berganti hijau. Semakin dekat dengat lampu merah, semakin ramai orang lewat, ataumereka yang baru saja daridari bis antar kota, karena lampumerah itu dekat dengan terminal, di samping itu memang adkampus dan rumah sakit rumah sakit.
Setelah melewati lampu merah Nampak deretan pohon palem dikiri kanan jalan yang daunya menutupi cahaya lampu-lampu  sehingga menimbulkan cahay yang temaram. Nampak di depan papan selamat datang, di bawahnya Nampak sepasang gapura yang dengan gagahnyamengawal .seorang dengan rambut panjang, keriting, yang mungkin wig ,memakai rok mini yang  ketat, stoking hitam, sepatu high heel  berjalan menuju arah gapura di bawah papan selamat datang.yah, mereka para waria yang dengan setia “menunggu” dan menjaga gerbang masuk kota.