SOBAT MAAFKAN AKU
Sobat aku sungguh tak mengerti
Semua ini bias terjadi
Setelah perkenalan itu
Aku terhanyut
Aku sebenarnya tak kuasa untuk
Mendambakanya
Merindukanya…
Sepenggal lagu Padi ini seolah menguraikan ingatanku tentang seorang gadis yang sempat mewarnai hidupku. Meskipun tidak pernah ada catatn tentang dia.
Ratna, yah, itu nama panggilanya..usianya waktu itu sekitar 18 tahun.. Rambutnya pendek, sekilas hampir kaya cowok kalau di lihat dari belakang. Kulitnya kuning. Satu ciri khasnya dia dekik kalau tersenyum. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Asli Benjeng Gersik.
Sebenarnya dia gadis yang biasa saja hingga suatu saat masuk ke sekertariat untuk mendaftar menjadi calon anggota MAPALA. Dia datang dengan seorang temanya Indah namanya. Ketika mereka datang Nampak dua sosok yang sangat berbeda. Yang satu tampak feminin dalam balutan jilbab dan rok panjangnya sedang yang satu tomboy dengan polo shirt dan celana jeans.
Awalnya aku tidak memperdulikan cerita teman-teman kalau Ratna ini anak yang menjadi rebutan, apa sih kelebihan anak ini? Pikirku. Tapi perasaanku ini berubah tatkala indah teman sahabannya bercerita kalau dia sebenarnya tidak setegar penampilanya.
Dia seperti itu hanya sebagai pelampiasan atas semua yang dia lalmi selama ini. Salah satunya hubungan dengan pacarnya yang tidak di restui. Akh, masalah renaja pikirku.
Tetapi semua itu berubah hingga suatu sore aku lewat depan kosnya untuk memebeli makan. Dia sedang duduk di depan kosnya. Mukanya kusut, rambutnya acak-acakan. Serta merta Timbul keinginanku untuk tahu apa yang terjadi.
Ku urungkan niat untuk membeli makan. lalu menhampiri dia, kami bercakap sekadarnya. Pertanyaan yang tadi tersimpan, seolah tak bisa keluar dari bibir. Karena mulut ini seolah terkunci melihat kondisinya. Di lengan kananya nampak beberapa bekas goresan benda tajam. Ada juga yang baru mengering. Di tangan kirinya sebatang rokok yang hampir habis terselip di antara jemarinya.
Ada apa sebenarnya dengan mahluk satu ini.apa yang sedang terjadi ? Kenapa tiba- tiba ada perasaan simpati yang menyelinap dihati. Rasa ingin tahuku makin makin besar. Ku coba untuk memulai percakapan denganya, meski tidak mengharapkan jawaban .
“ Eh sakit ta?”
“ Gak koq, Cuma lagi males aja.”
Sinting kayaknya ni anak pikirku.
“ Eya, kok sepi pada kemana?”
“Indah kuliah.”
“Oooh” Cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.
Setelah kejadian hari ini, aku mulai memberikan perhatian lebih kepadanya. Awalnya hanya sebagai seorang kakak kepada adik. Indah menjadi penyambung lidah kami. Dan dariny pula aku dapat infornasi lengkap tentang sosok sahabat akrabnya yang agak misterius itu. Mulai dari keluarga, kebiasaan merokok, percobaan bunuh diri bahkan kebiasaany dia meminum Obat penenang melebihi dosis jika sedang tertekan sampai hubungan dengan kekasihnya yang tidak mendapat restu.
Akhirnya kami mulai akrab satu dengan yang lain. Dari sini aku mulai merasakn adanya ketergantungan. Perasaan yang awalnya berupa rasa kasihan dan keinginan untuk merubahnya menjadi sosok yang tegar. Mulai berubah menjadi perasaan ingin memiliki . Sempat terbersit kekhawatiran, bagaimana jika aku nanti jatuh cinta?. Oh, Tuhan jangan sampai ini terjadi. Bisa panjang urusanya nanti.Karena beberapa alasan.
Pertama karena dia sudah punya pacar ,kedua kekasihnya sudah akrab denganku dan setiap dia datang ke sini untuk menjenguk Ratna. Dia menginapnya di kostku. Ketiga, dia sudah ku anggap adik untuk alasan terakhir tidak menjadi penghalang buatku.
Tetapi dari hari ke hari, perasaan ini semakin membingungkanku. Dia pun semakin hari semakin menghiasi hidupku. Mulai dari salingmengingatkan untuk hidup sehat, saling mengirim makanan bahkan ada kalanya dia memasak untuku. Ini kuanggap sebagi bentuk perubahan yang positif. Tetapi kembali lagi kepada diriku yang mulai terjebak dalam permainan.
Dan semakin parah, bukan hany terjebak kau juga mulai mengikuti kebiasaanya. Berawal ketika kami berselisih karena sesuatu yang tidak jelas, aku menunjukan kepadanya kalau bukan hany dia yang bias berbuat seperti itu. Di depan matany ku telan 4 butir obat penenang. Sontak dia kaget, karena dia melihat diriku seperti orang mabuk. Jelas saja, overdosis.
Rasanya bumi seperti bergoyang, kaki terasa ringan, mulut kering dan gerak tubuh tidak terkendali. Dan lama- lama ini menjadi cara pelampiasan ketika menghadapi masalah.
Dan suatu hari ketika pulang dari kampus kami bertemu di jalan, entah karena sudah di rencanakan atu kebetulan. Dia mengajaku untuk jalan- jalan.
Dan selanjutnya kami berdua naik angkutan menuju DEPlaza, tetapi dia mengajaku turun di depan stasiun GU. Begitu turun dia langsung menggandeng tanganku. Begitu erat seolah dia tak ingin kehilangan. Ada apa dengan anak ini? Habis minum apa dia? Sadarkah dia dengan apa yang di lakukanya? Pertanyan- pertanyan yang muncul di fikiranku.
Semakin lama semakin sering kami pergi berdua, mulai dari sekedar jala-jalan, belanja, ke toko buku,dan nonton. Darinya pula aku mengenal bagaimana memperlakukan pasangan ketika berada di mall, restaurant atau bioskop. Dia seolah guru bagiku. Banyak hal yang dia ajarkan dan itu membuatku seperti kecanduan.
Keadaan makin tidak terkendali. Dan bahkan semakin berani untuk bermain api. Banyak hal-hal yang kami lakukan meskipun itu sudah melanggar niat awalku yang ingin membantu dia untuk terlepas dari masalhnya, tetapi kami malah teribat dalm permasalahan baru.
Dulu kami hanya hang out hanya ketika ada kesempatan, tetapi seiring berjalnya waktu kami malah merencanakan semuanya. Tidak memperdulikan waktu.
Bahkan setelah dia di kunjungi kekasihnya, begitu pacarnya pamit, dia langsung datang ke kostku untuk mengajaku pergi. Apa yang terjadi dengan diriku? Meski aku tahu siapa dan statusnya, tapi masih saja ku lakukan ini semua. Dan aku semakin dalam terperosok.
Meskipun nurani ini menolak, karena semua yang kami lakukan sudah melebihi batas-batas persahabatan. Aku membayangkan bagaimana perasaanku jika berada di posisi kekasihnya.
Meskipun kebersamaan kami hanya satu tahun dan tidak ku anggap sebagai sebuah hubungan, namun kenangn itu cukup membekas.
Kursi kayu, 31 Desember 2010. 02:32 a.m

