WELCOME to EDY'S ZONE


Powered By Blogger
papan_kapur

blog ini media untuk belajar dan menuangkan semua ide- ide yang ada

Senin, 20 Desember 2010

MALAM SEPULUH SURO


MALAM SEPULUH SURO
“ Ed…pentool!” seru Koko dari depan sanggar menawarkan _ Memang dari tadi Dia menunggu lik penjual pentol yang biasanya lewat. “ sholaat!” jawabku yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk wudlu. Selesai sholat ku lihat dia sudah asyik di depan laptopnya untuk menulis berita_ karena Dia memang seorang wartawan, sambil menikmati pentol. “ tuh dimakan” katanya. gak pake lama benda-benda bulat di dalam plastik yang bercampur bumbu kacang, pindah tempat kedalam mulutku. Sambil membaca berita yang ada di Koran.
Setelah habis kulihat jam di dinding menunjukan pukul 5:05 sore. Ku  putuskan untuk pamit.“ eh duluan Ko, udah sore tadi ibuku nitip bakso ma lontong buat buka puasa, jadi duluan yow” kataku. Kebetulan tadi sebelum berangkat ibuku pesan kalau pulang  beli  bakso dan lontong.hampir saja lupa tapi gara-gara pentol. Jadi ingat lagi.” Yo gitu berbakti” Sahut koko sambil ketawa.
 Ku masukan netbookku ke dalam tas. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal. Ku tinggalkan sanggar. Memasuki kota kapas kulihat jarum indikator bensinku mendekati huruf E. ini berarti bensin di tangki motorku sudah mau habis. Meski menurut perhitungan masih cukup untuk sampai di rumah. Tetapi daripada besok harus mendorong motor karena kehabisan bensin. Seperti yang terjadi tadi waktu berangkat. Segera ku belokan motorku ke Pom bensin yang ada di daerah Balen.
Langit mulai gelap karena memang sudah masuk waktu magrib. Maka kecepatan motorku ku tambah karena biasanya perjalananku memakan waktu 30 menit. Tapi aku berusaha untuk sampai rumah sebelum magrib. Apalagi aku harus menbeli bakso untuk ibu, untuk berbuka. Meski di sepanjang jalan banyak penjual bakso tetapi tujuanku adalah bakso langganan ibu milik Pak  Men .  
Setelah hampir 15 menit memacu kendaraan. Ketika sampai warung Pak men Ternyata  sudah  tutup. Plan B pikirku _ya kaya gini ini kalo kebanyakan nonton film hollywood. Langsung menuju penjual yang ada di dekat sekolahanku dulu dan ternyata juga tutup. Wah..  terpaksa  plan C neh. Meski sudah terdengar adzan magrib. Tetap saja kulanjutkan perburuan bakso. Tiba-tiba ingat perkataan ibuku. Waktu aku bercerita magrib-magrib nabrak kucing.” Makanya nek dalu segera pulang”. Kata ibu. Tetapi karena sudah terlanjur janji, kulanjut perjalanku.
Tujuanku kali ini adalah Margoagung. Sumberrejo ke timur sekitar 2 kilo lalu ada perempatan belok keselatan. Tidak sampai 500 meter ada penjual bakso. Sebenarnya bukan yang ini, tapi karena sudah magrib, maka ku hentikan  motorku di depan warung. Daripada kemalaman sampai rumah
Segera ku pesan sebungkus dan 3 buah lontong. Cukup untuk berbuka pikirku. Selesai membayar segera Keluar dari warung dan  kupandang langit yang semakin gelap. Ingin segera sampai di rumah. Sesaat  kupikir kira-kira Jalur mana yang cepat ke rumah. Kalau terus keselatan memang dekat, tapi jalanya rusak.  Kembali ke utara lewat jalan raya jauh. Akhirnya kuputuskan untuk lewat jalur utara.
Sampai jalan besar kubelokan motorku ke arah barat. Melewati jalanan yang semakin gelap meski lampu-lampu sudah menyala. Tetapi karena pepohonan yang rindang menutupi sinarnya, maka seperti memasuki sebuah lorong. Sampai di perempatan Prayungan ku belokan motorku ke selatan. Berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada kereta yang lewat, karena aku harus melewati perlintasan kereta yang tak berpenjaga.
Setelah melewati rel dan sebuah polisi tidur yang sudah mulai rusak.  Tampak di depan seseorang wanita tua dengan membawa rinjing, dengan caping, serta bungkusan plastik kresek. Berjalan pelan-pelan di keremangan senja. Ku hentikan motorku di sampingnya. “ Bade tindak pundi Mbah” tanyaku” ke  desa Mbrambang,” jawabnya.” Monggo” entah kenapa aku menawarkan bantuan kepadanya. Padahal desa Mbrambang itu dimana? aku juga tidak tahu. “ Akh urusan nanti pikirku, yang penting nenek ini sampai tujuan, kasihan jam segini harus berjalan sendirian” itu yang terlintas di benaku. Lalu Aku teringat omongan temanku, “ kita harus selaluu khusnuzdhon kepada semua” .  
Begitu nenek itu naik ke motorku, selanjutnya aku juga di landa kebingungan. Desa tadi di wilayah mana? Sedangkan aku termasuk golongan orang yang tidak hafal wilayah_penyakit lupa entah sejak kapan nempel di diriku. Jangankan  nama desa, kadang nama muridku saja sering  lupa. Sambil jalan ku coba untuk mengingat nama desa yang tadi di sebutkan Mbah. Kalau ini terus ke selatan bakal sampai ke desa mana?. Seingatku  di saerah selatan tidak ada. Akhirnya  timbul inisiatif untuk bertanya. Kulihat ada seorang ibu di sepan rumah, kuhentikan motorku lalu bertanya” bu numpang tanya, desa Mbrambang itu mana?”. “ wah, jauh mas, Sumberrejo keselatan sekitar 10 kilo” jawab ibu tadi. Alamak , padahal sekarang aku berada didesa Pejambon, berjarak sekitar 5 kilo dari Sumberrejo.
Terjadi pergolakan di bathinku. Antara bakso titipan ibu dan nenek tua ini. Jika ku antarkan nenek ini maka aku akan terlambat pulang, tapi kalau tidak bagaiman nasibnya?. Ya Tuhan harus bagaimana aku?.
Akhirnya ku putuskan untuk mengantarkan nenek ini. Setelah melalui jalan yang mirip jalur offroad. Sampai juga  di jalan raya juga. Pelan-pelan ku lajukan kendaraanku. Sampai di perempatan sumberrejo ku belokan motorku kearah selatan. Tanpa  menambah kecepatan aku berharap ada keluarga yang menjempunya. Tetapi tidak seorangpun yang memanggil dia. Bahkan tukang becak orang - orang yang berhenti di pinggir jalan tidak ada yang memperhatikan kami.
Setelah melewati masjid besar dan rel kereta . Suasana tidak seramai di jalan besar tadi. Apalagi setelah hampir 3 kilo. Jalan makin gelap, hanya sesekali berpapasan dengan pengendara dari arah berlawanan. Semakin lama semakin sepi dan gelap.
Mbah namine sinten yogane” tanyaku sekedar untuk mengurangi rasa takut.” Saniman nak, omae Mbrambang kidul” jawab si nenek.” Mangke kulo gantos nak yotro bensin setunggal juta”. Lanjutnya.“ wah apa mungkin si Mbah ini  dari program “TOLONG” RCTI neh” pikirku.”  Oalaah wong niate nolong kok mikir kaya gini” .
di depan Nampak senuah toko di kiri jalan, ku putuskan untuk bertanya lagi. “ 3 kilo lagi mas” kata seorang pemuda yang kebetulan beli di toko tempatku bertanya.” Makasi mas, akh tar lagi nyampe” dalam hatiku. Tapi bagaimana caranya mengetahui kalau sudah sampai?. Bahkan  papan nama desa  tidak kelihatan karena gelap. Tapi kutemukan ide, dengan melihat angka di spido meter motor.
Sedikit ku pacu kendaraanku karena suasana makin gelap. Apalagi di kiri -kanan jalan hanya sawah, sambil sesekali ku perhatikan angka di spido meter. Sudah 2 kilo. Setelah angka di spidoku menunjukan 3 kilo lebih kuputuskan untuk bertanya lagi. Karena nampak di depan 3 orang laki-laki di atas motor. Yang satu sedang asyik telpon.yang dua menikmati rokoknya. Setelah berhenti, kumatikan motorku lalu bertanya.” Permisi pak, Mbrambang kidul tasik tebih?”. “ oh jembatan itu mas” sambil menunjuk ke arah utara,” ada jalan kecil sampean belok ke timur” jawab seorang dari mereka. Akupun menoleh mengikutu arah yang di tunjukan bapak tadi, untuk sekedar memastikan jarak jembatanya. ” suwun pak” sahutku.
Ternyata kelewat tapi hanya beberapa meter. Sedikit lega hatiku, sebentar lagi Mbah ini bertemu keluarganya. Tetapi sebelum di naik ke motorku bungkusan yang di bawanya jatuh. Segera ku bantu dan ternya di dalamnya berisi kain-kain kumal. Tiba - tiba terlintas di pikiranku” Wah jangan-jangan nenek ini orang sakit jiwa”. Akh , segera kutepis perasaanku ini” Mana mungkin orang gila bisa menjelaskan di mana alamatnya, nama suaminya dan desa tujuan”
Pelan –pelan ku jalankan motorku karena hanya beberapa meter. Sambil kunyalakan lampu sein. Kupastikan tidak ada kendaraan dari belakang, lalu aku belok kekiri.  Akhirnya  sampai juga di tujuan. Di sebuah kampung . tapi dimana rumah keluaraga si mbah ini? Namanya siapa ?. “ Mbah namine sinten rayatane njenengan?” tanyaku memastikan. “ Saniman nak, bakul sapi, asline sumberwangi” jawabnya.
 Daripada bingung kuputuskan untuk bertanya lagi.di depan ada beberapa ibu-ibu yang sambil menggendong anaknya. ” Bu griyane Saniman pundi?” ibu muda yang kutanya nampak kebingungan.” Gak ada mas yang namanya Saniman” jawabnya. “Mungkin di sebelah sana tahu” di tunjuknya bapak- bapak yang berkumpul di depan rumah.
 Agak  sulit juga lewat karena  di depan ada sebuah mobil berhenti di tengah jalan kampung yang kecil. Tiba-tiba si Mbah ngomong” la itu anakku di sana, le emak ojo di tinggal”. Maka ku hentikan motorku di dekat truk yang berhenti di tengah jalan.” Niki Mbah?” tanyaku.” Bukan nak, masih di depan” jawabnya. Daripada bingung maka ku dekatkan motorku ke orang-orang yangditunjuk ibu tadi,  lalu bertanya“ pak nyuwun sewu ngertos griyane pak Saniman?”.” Saniman? Gak eneng mas “jawab mereka. Waduwh, gimana urusanya neh?.
Tak lama kemudian penduduk kampung berdatangan. Mencari tahu apa yang terjadi.  Ada beberapap bertanya kepadaku ada permasalahan apa? Mencari siapa ? lalu kuceritakan apa yang terjadi. Macam- macam reaksinya. Lalu seorang bapak ngomong” jangan-jangan orang gila” . Akupun mulai kebingungan. Karena ini semua di luar perkiraanku. Akhirnya mereka bertanya kepada si Mbah langsung.
Mbah, madosi sinten?” Tanya seorang ibu.
Saniman nduk, bakul sapi asli Sumberwangi” jawabnya.
Enten perlu nopo( ada perlu apa?)?”
ngedos, wayahe panen”( waktunya panen)
“ oalah Mbah , sini baru saja tanam”
Akhirnya seorang bapak menengahi. “ mas kita bawa aja ke Bu lurah biar segera beres urusane”.
Ku iyakan saran bapak tadi, dari pada urusan ini tidak ada penyelesainya. Dengan harapan Bu lurah mau menampung si Mbah yang bingung ini. Dan yang pasti aku bisa segera pulang. Denga di antar dua orang penduduk kami menuju ke Tokonya bu lurah. Sesampai disana bapak-bapak tadi melapor.tetapi..
Oh My God. Bu lurah berkata” wealaah, Mas sampean bawa balik saja, dia sudah 4 kali kesini”. Seperti terkena arus listrik ribuan volt. Ternyata benar dugaanku tadi si Mbah ini orang….waaaa….. Aku harus  menghadapi kenyataan. Si Mbah ini memang mempunyai kelainan jiwa.





1 komentar:

  1. hwahwahahahahahajwing ..oalah pak jan jane di takoni mbahe mw bento opo oraaa

    BalasHapus